Sabtu, 03 Maret 2012

ranah 3 warna

karena gue udah jnji mau ngepost tentang buku selanjutnya dari negeri 5 menara, jadi bakal gue bahas di post kali ini
http://www.emocutez.com
 langsung aja yaaahhhh penampakan dari bukunya nih
sekarang resensinya ._.
 Cobaan Bertubi-Tubi Alif yang baru saja lulus dari Pondok Madani bertekad untuk masuk perguruan tinggi negeri, menyusul Randai yang sudah lebih dulu masuk ITB. Persaingan sejak kecil dengan Randai membuatnya gigih untuk belajar dan lolos tes UMPTN. Ia pun berniat meminjam buku bekas teman-temannya dahulu agar bisa menguasai pelajaran-pelajaran yang akan diujikan. Semangatnya menggebu-gebu saat itu. Namun, satu pertanyaan dari Randai sempat menciutkan semangatnya itu. “Kan tidak ada ijazah SMA?” Pertanyaan itu memang membuat peluang masuk PTN mengecil, tapi itu tak membuat Alif patah arang. Malah ia menjadi tertantang untuk membuktikan bahwa lulusan pesantren
—yang tak mempunyai ijazah—
bisa masuk universitas negeri. Ia akan buktikan ke semua orang bahwa segala tantangan berat akan bisa dihadapi dengan sungguh-sungguh dan usaha keras. Man jadda wajada. Meski impiannya untuk kuliah di jurusan Teknik Penerbangan ITB pupus gegara kemampuan dan waktu yang tersedia saat itu tak cocok dengan impiannya,Alif tetap serius untuk ikut UMPTN. Ia memutuskan untuk masuk jurusan Hubungan Internasional. Menurutnya, pilihannya ini akan membawanya terbang jauh ke Amerika, negara yang ia ingin kunjungi. Baru beberapa bulan menjalani kuliahnya, Alif sudah keteteran mengejar ketertinggalan. Tidak hanya nilai yang menuai hasil buruk, ia yang bertekad menghidupi sendiri uang kuliahnya justru terserang tipes. Alif sudah tak tahan lagi dengan cobaan yang terus menimpanya.

Pada fase inilah dia merasa bahwa kalimat Man jadda wajada tak ampuh lagi. Dia butuh mantra lain yang lebih ampuh, yakni Man Shabara Zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung. Dia akan terus bersabar dengan ujian yang bertubi-tubi menimpanya. Dia ikhlaskan segala takdir yang akan terjadi padanya. Alif yakin, bahwa di ujung kesabarannya itu ada hadiah yang bakal menantinya. Sangat brilian! Fuadi lihai menggunakan premis siapa yang bersabar akan beruntung di buku keduanya. Setelah sukses menyihir ratusan ribu pembaca di Indonesia dengan kalimat sakti Man jadda wajada di buku pertama, Fuadi sekali lagi melakukannya dengan mantra barunya, Man Shabara Zhafira.

Sungguh, ini merupakan konsep penulisan yang ciamik (subjektif). Mengajak pembaca tanpa harus memaksa-maksa. Memberi motivasi, tapi bukan dengan kata-kata hiperbola yang melambung tinggi. Menunjukkan kebajikan tanpa berusaha menjadi tetua teladan. Dia menampakkan sifat rendah hatinya di buku ini, selain di kehidupan nyata. Kalaulah ada improvisasi (peningkatan kualitas) dari buku sebelumnya, itu adalah diksi (pilihan kata) yang ia gunakan. Di buku pertamanya dia memang masih terlihat malu-malu menampakkan lema dari bahasa Melayu. Berbeda dengan buku kedua, Ranah 3 Warna sungguh memiliki nuansa kata yang kaya. Fuadi tak segan untuk menampakkan jati dirinya sebagai orang Melayu dari karakter Alif (meski secara teori mereka berdua bukan orang yang sama).

Banyak pantun yang berserakan di lembaran buku ini. Kalimat-kalimat yang terangkai pun khas Melayu. Ya, Fuadi di buku ini jelas menunjukkan dia asli Minangkabau, orang asli Melayu. Elok-elok kaki menyeberang Jangan sampai titian patah Elok-elok di negeri orang Jangan sampai berbuat salah. Tidak berhenti di situ, sifat pantang menyerah dan kesabaran yang Alif tunjukkan dalam menghadapi cobaan membuat saya merasa malu. Malu karena saya yang masih diberi nikmat jarang bersyukur. Malu karena dengan dua tangan dan dua kaki belum banyak berbuat apa-apa. Malu karena di saat mahasiswa lain memikirkan nasib rakyat bawah, justru saya berhaha-hihi di sebelah tumpukan komik gramet. Malu karena buku yang saya baca tak ada secuil dari koleksi teman-teman yang ingat akan cita-citanya. Malu karena saya hanya bisa duduk diam menyaksikan televisi di saat kalian berteriak-teriak menyuarakan nasionalisme. Apa…? Sebetulnya apa yang sudah saya perbuat untuk bangsa ini? hati ini pun mulai mempertanyakan idealisme yang tumbuh di dalam diri. Kembali ke buku Ranah 3 Warna, Alif mulai sadar akan dirinya. Ia harus membiayai dirinya sendiri dengan bekerja. Meski ia harus berjibaku dengan barang-barang sales, ia tetap percaya jalan itu pasti ada. Meski kuliahnya tak lagi dibiayai ayahnya. Meski ia banyak mengutang di sana-sini. Meski hidupnya tak tentu arah dan tak pasti akan bagaimana hari selanjutnya. Hari esok adalah kejutan baginya. Meski cobaan terus datang, dia tetap percaya bahwa jalan itu ada di depan dan harus terus melangkah. Dengan kerja keras dan kesabaranlah dia bisa sampai pada titik tertinggi. Barang siapa yang menabur benih, niscaya akan menuai panen (betul begini, ga?). Alif yakin bahwa takdir itu adalah rezeki manusia dari Tuhan yang paling baik buat makhluknya. Sebuah paradoks. Ketika berada di negeri ini, rasanya nasionalisme tak pernah berada di posisi klimaks. Biasa. Tak bermakna primer. Yah, begitulah. Namun, saat berada di negeri yang jauh dari rumah, sungguh, nasionalisme tumbuh sangat kilat. Itulah perjalanan Alif di Benua Amerika. Di Kanada, Alif menunjukkan dirinya sebagai rakyat Indonesia yang bangga akan tanah airnya saat upacara bendera. Kemudian, tentang pacaran. Tentu kalau kita bicara soal anak muda tak lepas dari apa yang dinamakan cinta. Biasanya, cinta mereka tercermin dalam ikatan yang dinamakan pacar. Fuadi sedikit banyak mengajak kita (anak muda) untuk melihatnya sebagai sesuatu yang serius. Maksudnya, hubungan pacar itu jangan digeneralisasi sebagai gaya hidup wajar. Itulah tindakan Alif ketika berhadapan dengan Raisa. Di situ dia sangat jeli dan hati-hati menempatkan nasihat Islam sebagai suatu gaya hidup yang benar.

nah udah tau kan , mantra yang berikutnya?? *dicuekin*
MAN SHABARA ZHAFIRA ,siapa yang beruntung
*oya di post sebelumnya, ada yang salah harusnya siapa yang bersungguh2 akan berhasil *babo* http://www.emocutez.com @nanachandr

Tidak ada komentar:

Posting Komentar